RSS

sebagian kebudayaan benua afrika dari pandangan saya

30 Apr

Maroko adalah negara yang terletak di tepi Selat Gibraltar. Yaitu, selat yang menjadi perbatasan antara Benua Afrika dan Benua Eropa. Hal ini memengaruhi bidang kehidupan sosial dan budaya Maroko. Nah, mau tahu informasi lebih lengkapnya? Yuk, kita baca bersama! Budaya Maroko termasuk negara yang kaya akan budaya. Sebab, negara ini menjadi tempat pertemuan budaya dari berbagai macam bangsa. Yaitu, dari daerah timur (Benua Asia) yang meliputi kebudayaan bangsa Punisia, Tunisia, Yahudi, dan Arab. Sedangkan dari utara (Benua Eropa), ada bangsa Romawi, Vandal (Jerman), dan Andalusia (Spanyol). Dari daerah selatan, ada kebudayaan y ang berasal dari wilayah gurun Sahara. Kekayaan budaya di Maroko ini turut memengaruhi beberapa bangunan yang ada di sana. Salah satunya, Masjid Hassan II. Masjid ini terletak di Kota Casablanca dan menjadi masjid terbesar kedua di dunia (setelah Masjid Al-Haram di Mekkah, Arab Saudi). Rancangan bangunan masjid ini mendapat pengaruh dari arsitektur Spanyol.
Budaya Pernikahan Unik di Afrika

Benua Afrika terkenal dengan kehidupan suku bangsanya yang masih primitif. Sifat primitif itu terlihatmulai dari cara mereka berpakaian, tingkah laku sosial, kebutuhan sarana fisik sampai kebudayaan mereka.
Nah dalam kesempatan kali ini saya akan men-sharing fakta tentang kebudayaan pernikahan yang terbilang unik dari berbagai suku primitif Afrika. Apanya yang unik?
Semuanya…mulai dari proses memilih calon pasangan, proses negoisasi dan sampai proses pernikahan. Bahkan dikatakan ada kalanya dalam proses pernikahan tersebut sering menelan korban jiwa pada sang mempelai, khususnya calon mempelai pria.

Berikut 3 contoh kebudayaan pernikahan yang unik di Afrika:

1. Tradisi Sharo
Tradisi Sharo dipraktekkan di negara-negaraAfrika seperti Mali, Nigeria dan Kamerun. Tradisi ini dipraktekkan dengan cara dimana para pria harus mengalahkan para penantangnya jika ingin mengambil istri. Ini betujuan untuk menunjukkan kejantanan dan kepantasan seorang pria meminang calon istri.
Para pria tersebut dipukuli oleh para penantang dan mereka harus menahan rasa sakit yang dialami. Jika mereka berhasil menahan rasa sakit dari pukulan-pukulan tersebut maka para pria tersebut akan dinyatakan sebagai pria sejati dan berhak mengambil calon istrinya. Tapi jika gagal, mereka tidak diperbolehkan untuk
mengambil para gadis sebagai istri. Bukan hanya tidak dapat mengambil calon istri, para pria yang gagal pun harus menanggung rasa malu yang teramat berat dan seringkali mereka yang gagal juga kehilangan nyawanya akibat luka-luka yang terlampau berat.
Wah ironis sekali ya. Kalau seperti itu, memang benar yang dikatakan orang kalau “cinta itu butuh pengorbanan”!

2. Culik dan Nikahi
Dalam bahasa Inggris – Kidnap and Marry -, merupakan tradisi pernikahan di kalangan Latwoka, sebuah suku di negara Sudan (Afrika). Tradisi ini terbilang brutal, aneh bahkan saya katakan “wong edan! enggak tahu sopan santun!”
Mengapa saya katakan seperti itu? Di tradisi ini jika seorang pria ingin menikahi seorang gadis, si pria hanya tinggal menculik sang gadis dan baru kemudian si pria dan keluarganya baru meminta persetujuan kepada keluarga sang gadis.
Tidak peduli sebelumnya, antara si pria dan si gadis incarannya sudah terjalin hubungan atau belum, bahkan apakah si gadis sudah pernah mengenal si pria atau belum itu tidak menjadi halangan untuk meminang sang gadis.
Setelah sang gadis diculik, barulah keluarga si pria yang “kurang ajar” ini datang menemui ayah dari sang gadis untuk meminta persetujuannya.
Jadi hai para gadis di belahan dunia manapun, berterima kasihlah kepada Tuhan karena kalian tidak dilahirkan di Latwoka dimana penculikan untuk dinikahi diperbolehkan.

3. Tradisi Lobola
Tradisi yang berhubungan dengan budaya pernikahan adat Lobola ini pada dasarnya menjadikan para gadis layaknya sebagai objek jual-beli. Mengapa begitu? Tradisi ini melibatkan negosiasi harga yang akan dibayar laki-laki untuk menikahi seorang gadis.
Disamping itu, proses tradisi Lobola berkesan rumit karena harus melalui protokol (tata aturan) tertentu yang harus ditaati oleh kedua belah pihak. Tata aturan yang dimaksud adalah seperti dilakukannya pertukaran pasangan.Yang dalam pertukaran tersebut, tidak diperbolehkan adanya pasangan yang sudah saling mengenal sebelumnya.
Jadi dapat dikatakan, calon mempelai pria dan wanita dijodohkan sepenuhnya oleh tata aturan adat, yang satu sama lain tidak saling mengenal pada tingkat keseriusan da kesucian suatu pernikahan. Dan juga dapat dikatakan tidak adanya dasar cinta satu sama lain dalam tradisi yang harus dipatuhi oleh semuanya ini. Apabila keluarga dari pengantin
tidak setuju dengan tradisi ini maka mereka akan dihukum. Sungguh mengenaskan..ckckck.

Berbahagialah kita yang beruntung tidak dilahirkan dalam kondisi kebudayaan seperti itu. Mungkin dulu ada di negara Indonesia bentuk seperti kisah “Siti Nurbaya”, tetapi itu dulu, dimana cinta antara 2 insan tidak dianggap keberadaannya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 30, 2011 in hanya tulisan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: